Terbitkan Tiga Novel, Ini Kiat Sukses Tiwi Kasavela Dalam Menulis

MAGAZINE INDONESIA / BANDUNG,– Menulis, seakan menjadi hal yang tidak pernah terlepas dan mendarah daging bagi Tiwi Kasavela.

“Menulis bagi saya sudah seperti makan, tidak ada waktu seharipun yang saya lewatkan tanpa menulis sesuatu,” ujar gadis yang akrab disapa Tiwi.

Pada bulan Juli 2021 ini, Tiwi kembali menerbitkan sebuah novel berjudul Serpihan Hasrat.

Sebelumnya Tiwi juga berhasil menerbitkan novel Terbakar Delusi dan Gulana Rindu pada tahun 2019.

Sukses menerbitkan tiga novel, lalu apa kiat Tiwi Kasavela dalam menulis?

Tiwi bercerita bahwa sejak kecil ia hobi menulis dan mendedikasikan seluruh waktu senggangnya untuk menulis berbagai hal, mulai dari autobiografi, kumpulan cerpen, hingga beberapa novel yang banyak terinspirasi dari pengalaman serta pergumulan pribadi seputar hidup dan pencarian jati diri.

“Saya senang mengabadikan emosi perasaan, ingatan, pengalaman dan apa-apa yang saya lewati dalam hidup ini. Menulis adalah cara saya menyimpan kenangan, melabuhkan hasrat, rindu, kemarahan dan segala hal yang tak selalu dapat disampaikan secara langsung lewat lisan,” terang gadis kelahiran Bandung, 5 Oktober 1994.

Lulusan Magister Ilmu Komunikasi ini juga mengungkapkan bahwa ia mudah menulis novel saat perasaanya sedang bergejolak entah karena jatuh cinta, patah hati atau mengalami konflik kehidupan.

“Biasanya saya sangat lancar menulis novel, saat ada kejadian yang benar-benar membuat saya gundah mungkin ya… sebut saja dilema, galau, resah ya semacam itu,” ucapnya.

“Mungkin saat kita jatuh cinta lalu ingin menyampaikan betapa dalam kekaguman itu, betapa besar gairah untuk bisa memiliki. Saat keinginan tinggal utopia karena cinta bertepuk sebelah tangan, saat ada masalah dan tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Gejolak-gejolak itu biasanya sangat kaya jika dituangkan dalam bentuk tulisan,” sambung Tiwi.

Menurut Tiwi jika kita ingin menulis sebuah buku, maka hal yang harus kita miliki adalah niat dan komitmen untuk melakukannya.

“Intinya niat, ada motivasi di dalamnya, kenapa kita menulis? untuk apa buku yang kita tulis? Apakah untuk eksistensi pribadi? Apakah untuk melepaskan kesedihan? Apakah untuk memberikan inspirasi dan manfaat kepada orang lain atau sekedar berbagi? hal inilah yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri. Semakin kita paham apa niatnya, komitmen kita juga akan semakin tinggi dalam menulis. Sehingga kita bisa menyelesaikannya menjadi sebuah buku,” paparnya.

Disamping itu, ucap Tiwi penting untuk menulis di bidang atau hal yang kita sukai agar bisa menulis dengan lancar dan gembira.

“Menulis itu bisa dimulai dari apa yang kita sukai dan kita kuasai. Kalau kita suka seni, sains atau sejarah kita bisa mulai dari sana, karena akan mengalir dan lebih mudah, nggak ada beban juga karena kita sudah paham dengan apa yang ditulis,” jelasnya.

Dalam mencari inspirasi, penggemar kajian filsafat dan teologi ini juga menambahkan bahwa ia senang bereksplorasi ke tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru.

“Selalu ada yang akan kita temukan, saat tubuh dan jiwa dibawa berlari pada hal-hal yang baru. Pengalaman pergi ke tempat baru dan bertemu dengan orang baru, selalu menorehkan banyak kesan, hal-hal yang tidak terduga dan membuat kita merasakan serta mempelajari sesuatu yang menakjubkan,” tandas Tiwi yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis di media online dan penyiar radio di Kota Bandung, Jawa Barat.

“Kuncinya, mulai saja dulu, kemudian konsisten untuk menyelesaikan dengan apa yang sudah dimulai. Pasti bisa, kalau kita bersungguh-sungguh,” pungkasnya hangat. (Red MG / Ly -DY)

Bagikan Link :