ARTIKEL

Benarkah Covid-19 Menyerang Ekonomi Dunia ?

MAGAZINE INDONESIA – themagnesianews.com || Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai perwakilan WHO pada Rabu 11 Maret 2020 telah mengumumkan bahwa Covid-19 yang disebabkan oleh Virus SARS-nCoV2 ditetapkan sebagai Pandemik. Dengan status sebagai pandemik, maka Covid-19 dianggap sebagai penyakit yang dapat menyebar dengan skala global. Melalui pernyataan ini secara resmi WHO menyampaikan bahwa pernyikapan terkait Covid-19 ini bukan lagi sifatnya pencegahan penyebaran (containment) tetapi menjadi usaha mitigasi semua pihak untuk menyelesaikan masalah pandemik ini secara serius.

Tanpa Covid-19 sebenarnya 2020 diprediksi menjadi tahun yang sulit bagi ekonomi dunia. Adanya perang dagang antara US dan China telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi beberapa negara yang ekonominya terkait dengan US dan China. Apalagi dengan adanya Covid-19 ini, industri yang supply chain-nya sangat tergantung pada produksi di China akan sangat terpengaruh dan itu menambah terhadap perlambatan ekonomi.

Dimulainya mitigasi pandemik maka akan banyak kebijakan-kebijakan untuk mengisolasi, mengurangi interaksi sosial dan pembatalan agenda-agenda yang mengumpulkan massa. Hal ini tentunya menambah makin lesunya ekonomi. Selain itu sentimen Covid-19 ini mempengaruhi berbagai pasar saham di seluruh dunia. Pada 11, 12 Maret banyak pasar-pasar saham rontok dan terpaksa transaksi di Halt untuk menahan kontraksi.

Bahkan pada 12 Maret Dow Jones turun 2352 point atau hampir sekitar 10%, dan itu adalah rekor penurunan terbesar sejak tahun 1987. Jika dihitung dari 12 Februari indeks Dow Jones sudah turun sekitar 8400 poin. Hal ini menunjukan para investor pun mulai memikirkan untuk menyelamatkan asset-asset-nya dengan mengganti instrumen investasi dari saham kepada instrumen yang lain.

Sedangkan di Indonesia, pemerintah tidak kalah pening. Karena perlambatan pertumbuhan ekonomi industri mulai melakukan kebijkan penghematan, terjadi gelombang PHK. Selain pemerintah saat ini yang sangat bergantung terhadap China pastinya terimbas pula dengan berkurangnya aliran-aliran investasi baru ke dalam negeri.

Industri pariwisata sangat terpukul, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan diskon 50% tiket pesawat, bahkan sempat akan mengucurkan dana 72 Miliar untuk membayar influencer agar mempromosikan pariwisata Indonesia. Tetapi hal itu mendapat kecaman, karena seharusnya pemerintah fokus dalam menangani Covid-19 dengan membatasi travel, ini malah menyarankan masyarakat untuk berwisata dalam kondisi saat ini.

Disisi lain Arab Saudi justru melakukan travel ban untuk umrah, walaupun merugikan secara ekonomi, tetapi keselamatan warganya lebih penting.

Memang dengan terpukulnya industri-industri pemerintah semakin bingung untuk menjaga defisit APBN. Sehingga diwacanakan ada pajak emisi kendaran, pajak gula minuman ringan, bahkan pajak jalan, hal ini mengindikasikan saking rumitnya masalah ekonomi yang dihadapi negara saat ini.

Ibu Sri Mulyani ketika mendapatkan keputusan MA bahwa kenaikan iuran BPJS dibatalkan sempat mengancam akan menarik suntikan dana 13,5 Triliun rupiah kepada BPJS, apakah hal ini akan menyebabkan BPJS bangkrut?

Begitu bertubi-tubinya pukulan-pukulan terhadap ekonomi dunia, baik langsung atau tidak langsung Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai trigger utamanya.

Tahun 2020 baru memasuki bulan ketiga-nya, bagaimana akhir dari tahun 2020 ini? Tentunya banyak para pengambil kebijakan, pelaku bisnis bahkan masyarakat secara umum mulai berpikir untuk mengencangkan ikat pinggang, “The Winter is Coming“. Tentu hal ini jangan sampai membuat panik, kita tetap harus berpikir jernih, melakukan usaha terbaik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini dengan kepala dingin. Karena setelah musim dingin akan datang musim semi yang akan menumbuhkan kembali daun-daun harapan kehidupan. (Ly)

sumber inspirasi

Visits: 13

Bagikan Link :