RAGAM

Tiwi Kasavela : Tentang Hidup dan Pencarian Jati Diri

themagnesianews.com | BANDUNG —
Setiap manusia pasti memiliki hal yang penting dalam hidupnya, yang ia cari untuk ditemukan, yang ia cintai untuk selanjutnya diperjuangkan, begitupun dengan Tiwi Kasavela, atau yang akrab disapa dengan Tiwi.

“Manusia terjebak dalam ruang dan waktu yang terkadang banyak menimbulkan kesan, bahagia, atau sedih. Ada rasa penasaran, gelisah dan pertanyaan yang belum tentu dijawab oleh waktu, namun hal itu tetap menjadi sesuatu yang harus dituntaskan,” terang gadis kelahiran, 5 Oktober 1994.

Menggemari kajian filsafat dan teologi, membuat Tiwi juga belajar mengenai berbagai macam kompleksitas yang ada disekitarnya, bergaul dengan berbagai macam orang dari latar belakang suku, agama dan pengalaman yang beraneka ragam.

“Banyak hal yang menerpa kehidupan saya, baik kekecewaan, rasa jatuh cinta, menyerah bahkan kehilangan kepercayaan. Namun hal-hal tersebut membuat saya lebih banyak merenung dan menulis, membuat cerita yang mengandung sisi kelam dan harapan dari apa yang sesungguhnya saya rasakan,” jelas penulis novel Terbakar Delusi dan Gulana Rindu yang diterbitkan tahun 2019.

Berbicara soal menulis, Tiwi berkata bahwa dia tidak berusaha membuat novel yang fenomenal, berkualitas atau memiliki intrik tertentu.

“Saya menulis tentang diri saya sendiri, orang lain akan tahu diri saya jika membaca novel saya. Menulis adalah representasi diri, bagus atau buruk, jelek atau baik, ya itulah diri saya, dan karenanya tak memerlukan perbandingan atau sisi objektif manapun,
” jelas penfavorit warna merah dan penyuka makanan pedas.

Ditanya soal hobi, selain menulis Tiwi juga senang dengan menemukan hal baru, Karena dalam perjumpaan, ia dapat merasakan, mempelajari sesuatu setiap harinya.

“Untuk tokoh idola, sebetulnya saya menggemari orang-orang yang berani dan mampu menyampaikan ide dan gagasan meski bersebrangan dengan keyakinan mainstream kala itu, saya mengagumi beberapa filsuf eksistensialisme seperti Nietzsche, Kierkegaard atau Schopenhauer. Di aliran sufisme saya juga tertarik dengan Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar,” terang penfavorit buku Atheis karya Achdiat K. Mihardja ini.

Adapun kesibukan dari mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi semester akhir ini selain mengerjakan tesis juga aktif menjadi jurnalis di media online dan penyiar radio di Kota Bandung Jawa Barat.

“Saya sebenarnya orang yang sangat suka bersantai, ketimbang pergi bekerja dari pagi hingga petang, saya lebih senang menonton serial drama, acara mistik, membaca buku pengembangan diri, menyaksikan kajian tokoh dunia, atau pergi ke tempat rekreasi, museum, rumah ibadah atau kawasan yang memiliki sisi estetik atau sejarah tertentu yang menarik untuk ditela’ah,” paparnya.

Untuk harapan ke depan, Tiwi berkata bahwa ia ingin mempopulerkan dan kembali menerbitkan novel-novelnya, dan terus berkarya.

Selanjutnya juga Tiwi ingin mengeksplorasi kehidupannya lebih dalam lagi, agar bisa menjadi manusia yang lebih bebas dan berdaya juga merdeka.

“Dimasa depan nanti, saya ingin menjadi pemilik sebuah media online, karena saya mendalami kajian ilmu jurnalistik sejak S1 dan profesi wartawan adalah hal pertama yang saya geluti, oleh karena itu saya ingin membuat media yang positif, inspiratif dan alternatif untuk beberapa tahun kedepan,” terang pemilik motto kebebasan yang hakiki adalah menjadi diri sendiri.

Bungsu dari lima bersaudara ini juga menyampaikan bahwa ia ingin menjadi pemilik sebuah penerbitan buku, karena sebagai seorang novelis, ia ingin membantu banyak orang untuk menerbitkan buku-bukunya dan melihat orang lain bahagia saat karyanya berhasil dicetak dan disebarluaskan.

“Disamping itu, saya juga ingin menjadi pengusaha toko buku. Karena saya adalah orang yang menggemari buku, saya senang membeli dan menyimpan buku meski saya tak selalu sempat membacanya, buat saya buku adalah sumber inspirasi, aspirasi dan gairah,” tandasnya.

Terakhir, Tiwi juga berkata bahwa hingga saat ini ia masih tengah berproses dalam upaya memahami kehidupan dalam sisi yang lebih luas agar ia dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi keadaan.

“Saya berterima kasih telah terlahir ke muka bumi ini, meski seorang filsuf pernah berkata bahwa hidup adalah kutukan dan terkadang ada banyak hal yang membuat saya tak mengerti mengapa saya hidup. Tapi tak apa, karena menikmati dan mengisi kehidupan lebih indah dari pada terus bergulat dengan kebimbangan,” pungkasnya sore ini mengakhiri perbincangan yang hangat, saat awan mulai memerah meninggalkan pelataran siang menuju senja. (Dy)

Visits: 6

Bagikan Link :