EKONOMIPOPULAR

Penyelamatan Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Dari Sudut Pandang Pelaku Pasar

MAGAZINE INDONESIA – themagnesianews.com ||Dalam acara webinar penyelamatan Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Nasional yang di pandu oleh Benny Soetrisno selaku Wakil dari Kadin bidang perdagangan. yang dilaksanakan pada hari Rabu 26 Agustus 2020.

Ada yang menarik dari pernyataan Ayi Karyana sebagai pelaku pasar yang berbicara dalam acara tersebut. Dia mengatakan bahwa kondisi saat ini sangat memukul perusahaan tekstil, mulai dari lesunya pasar domestik, persaingan dengan produk impor tekstil yang membanjiri pasar dengan harga yang murah.Ayi mencontohkan, jika dia produksi untuk 1 yard kain, dia menghabiskan ongkos produksi 13.000 rupiah dan dijual dipasaran dengan harga 14.000 rupiah, sementara itu harga kain impor dipasar hanya 12.000 rupiah.

“Tentunya kondisi ini sangat menyulitkan kami menjual produk” ungkapnya.

Untuk menyiasati situasi tersebut, Ayi membuka sendiri toko di pasar kabupaten untuk menjual produknya, namun ternyata dipasar pelosokpun, sudah dibanjiri kain impor. Ini yang membuat Ayi heran sehingga dia mencoba menelusuri dari mana kain tersebut, dia mengetahui ternyata kain tersebut berasal dari penjual bermodal besar. Mereka tidak punya pabrik tapi langsung mengimpor.

” Ini yang membuat saya heran, mereka bisa mengimpor sendiri, mendatangkan kontainer sendiri, membongkar sendiri sampai menjual produk sendiri. Bukankah itu sudah menyimpang jauh dari aturan pemerintah yang sudah diberlakukan” kata Ayi.

Untuk menyiasati hal tersebut Ayi datang sendiri ke China ingin mengetahui kenapa barang mereka itu murah, ternyata kata dia, kita kalah bersaing dengan China mulai dari permesinan, efisiensi, dan dukungan dari pemerintahnya, banyak insentif yang diberikan sehingga barang mereka bisa murah dipasaran.

“Sementara di Indonesia sendiri diperparah dengan banyaknya mafia importir yang melanggar aturan. Jika mafia ini tidak diberantas, sangat sulit bagi kita untuk bersaing” ungkap Ayi.

“Harapan pelaku pasar agar produk yang merusak pasar tersebut dihancurkan atau dihilangkan, kalau menurut aturan itu tidak boleh, maka mohon dibatasi produk impor, boleh impor untuk produk yang memang tidak bisa dibuat di Indonesia. Karena kita perlu dan kita tidak bisa produksi itu boleh”

“Kalau semua produk masuk, matilah produksi kita, untuk itu perlu dibentuk Satgas, yang berisi gabungan dari para pelaku pasar, UMKM, termasuk juga dari Asosiasi pertekstilan, IKATSI, dari aparat kepolisian, TNI juga dari bea cukai, dan harus berkesinambungan” tambahnya.

“Terakhir saya berharap agar pemerintah turun ke lapangan jangan hanya mendengar laporan, saya yakin jika bapak-bapak Turun ke lapangan akan tercengang mengetahui berapa persen produk impor yang membanjiri pasar dan berapa persen produk lokal yang terserap” pungkas Ayi.

Memang benar, dimata jurnalis pun, Kalau industri tekstil kita belum bisa melakukan ekspor, maka pemerintah perlu mengembalikan kondisi industri tekstil nasional ke tahun 1980-an dengan memberikan insentif fiskal bagi industri tekstil berorientasi substitusi impor.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef), kinerja industri tekstil dan produk tekstil nasional rata-rata pertumbuhan selama 10 tahun terakhir mencatat kenaikan ekspor tiga persen namun di sisi lain impor juga mengalami kenaikan 10,4 persen. Sedangkan neraca perdagangannya terus tergerus dari 6,08 miliar dolar AS menjadi 3,2 miliar dolar AS.

Beberapa alasan mengapa industri tekstil dan produk tekstil nasional mengalami kemunduran signifikan karena serbuan impor produk tekstil ke Indonesia, harga produk tekstil Indonesia tidak kompetitif dibandingkan produk impor, pertumbuhan impor kain yang tidak diimbangi ekspor garment telah merusak industri kain, benang dan serat, serta pertumbuhan konsumsi domestik diambil impor.

Lily MG(Alumni Teknik Industri Tekstil)

Visits: 62

Bagikan Link :